Ruqyah Tumor Hafidz Quran Mutqin, Oleh UNAI
RUQYAH TUMOR HAFIDZ QURAN MUTQIN
Bismillah Asholatu Wassalamu 'Ala Rosulillah. Ada 4 guru quran, hafidz, mutqin, bersanad didampingi pembinanya yg konseling dan ruqyah dan kemudian reaksi dan muntah darah.
Subhanallah, layak disimak untuk seluruh hafidz untuk menyaksikan betapa hebatnya tipu daya syaitan itu bekerja hingga menimbulkan hafdiz quran yg mutqin dan bersanad ini menderita cancer dan tumor 12cm dipayudaranya.
Kasus dimulai dengan mengumpulkan data semua penyakit dari hamba-hamba Allah pilihan-Nya ini. Mereka adalah penghafal quran yg telah berhasil menghafal seluruh al quran halaman demi halaman, ayat-per-ayat bahkan kata per kata bolak balik. Sebagaimana predikat mutqin dimaksud, bahkan sudah mendapat sanad dan aktif mengajar dan mengelola pondok para hufadz.
Yg pertama, dari pembinanya sendiri. Ada sakit jantung akibat gerd, syaraf pendengaran menurun dan orangtuanya ada riwayat jantung dan gangguan telinga yg sama. Artinya ada jin nasab.
Ada 2 hafidzah (akhwat) usia 26-27 ada gangguan di Menstruasi, Istihadoh (pendarahan), Migrain, Atshma, Hypertensi, Sakit kepala dan lambung. Asal daerah keduanya tdk dikonfirmasi. Mereka adalah para juara diantara puluhan atau ratusan hafidz lainnya yg bekerja dlm satu lembaga amal (volunter) untuk mengkader para penghafal quran lainnya.
1 hafidzah (usia 27) ada tumor dipayudara kiri, 12cm (sebesar kepalan tangan). Yg dirasakan sakit nyut-nyutan, pedih, panas dan mengeras dlm beberapa kondisi. Beliau dari padang.
Dan terakhir, ikhwan. Keluhannya ada kedutan diarea telinga dan paha. Seperti setrum ringan. Yg ditelinga diagnosanya terlalu banyak cafein. Tapi setelah diagnosa ringan pernah isi khodam tanpa ia sadari di pondoknya dahulu dan ada riwayat jin nasab dari ayahnya di Bulukumba (sulsel) yg masih kental. Inilah yang nanti muntah darah.
Sebenarnya ada 2 lagi, satu akhwat putri beliau. Dan hafidz usia dibawah 20 tahun, ikhwan yg keduanya memiliki keluhan minor.
Singkat cerita, seluruh penyakit didata dan selanjutnya adalah nasihat umum. Bagaimana perbedaan pengobatan (tadawwa/medications) dan penyembuhan (istisyfa/healing), bagaimana letak pemahaman perbedaan penanganan penyakit fisik dan psikis.
Termasuk penyakit keturunan (penyakit genetij) dan relasi kuat dengan jin keturunan (faktor bawaan) dlm dunia medis. Terkhusus penyakit jantung dan syaraf (pendengaran) dengan contoh-contoh kasus yg tdk bisa ditolak logika yg sudah sembuh.
Bagaimana hubungan langsung penyakit psikis kepada tubuh, dan peran syaitan dalam menambah dosis psikosomatis sehingga seakan menjadi penyakit fisik murni yg terdeteksi secara medis dan kemudian salah penanganan karena akarnya memang ada pada ruang psikis tadi.
Terakhir bagaimana kemudian syaitan bekerja sama dengan nafsu/psikis manusia yg menjadi persekongkolan terbesar dibalik kekufuran manusia. Melahirkan kesedihan, kemarahan dan kekecewaan dan kemudian merampok kualitas kebahagiaan mereka dari tengah rumahnya.
Nasihat interaktif ini adalah ceramah tambahan, karena dari pagi sampai ashar mereka telah mengikuti dengan seksama presentasi di masjid dengan tema khusus "Terapi Al Quran untuk penyakit medis/fisik". Dan diantara mereka telah menyimak lebih dari 3 kali. Bahkan ibu pembina sudah ikut program intensif kami yg satu pekan.
45 menit berlalu cepat, dan selanjutnya masing-masing menanggapi satu persatu. Tentu dari sudut yg subjective termasuk konseling pribadi untuk kondisi psikis atau kejiwaannya. Ibu pembina menanggapi secara akademis dan kasuistik dg masalah pribadinya, si abang hafidz juga membenarkan hubungan jin nasab dengan kasusnya. Sementara satu hafidzah bertanya tentang materi siang tentang perbedaan proses penyembuhan dan pengobatan.
Saya pun menegaskan dan memeberi details tentang kenapa proses penyembuhan langit (istisyfa) itu tanpa proses, berbeda dengan pengobatan (tadawwa) yg melibatkan infrastruktur bumi atau sunatullah (ketetapan Allah kepada mahluknya di langit dan bumi). Dan hubungannya dng fungsi 'Ijaz al Quran terhadap seluruh problematika manusia termasuk penyakit.
Sampailah digiliran 2 hafidzah lain termasuk yg cancer ini, 2 hafidzah ini memilki kesamaan. Mereka mengawali komentarnya dgn mengakui adalah gejolak kemarahan dan kekecewaan luarbiasa tentang masa kecilnya yg terhubung dgn penyakitnya ini.
Mereka kecewa kepada ayahandanya yg sampai saat ini belum meninggalkan perdukunan, kasar dlm memperlakukannya dimasa kecil, kurang perhatian dan tidak memberi nafkah yg cukup sehingga ibundanya yg bekerja banting tulang dan kemudian ia dekat dengan ibu dan jauh dengan ayah.
Salahsatu hafidzah ini mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama ia bercerita dgn derai airmata dan sesak kemarahan terpendam. Ia merasa marah kepada dosa zina yg dilakukan ayahnya (perselingkuhan) yg kemudian ia sendiri dilecehkan oleh salahsatu guru ngajinya diwaktu kecil. Ia merasa bahwa peristiwa yg menimpanya disebabkan dosa ayahnya lengkap dgn dalil yg ia fahami.
Hafidzah yg tumor menimpali temannya yg mirip dgn kondisi keluarganya yang tidak harmonis mengakibatkan kebencian terselubung antara ia dan ayahandanya. Dan kemudian saya memotong pembicaraan, setelah memberikan tisue untuk segera mengakhiri keterkejutan itu. Bagaimana bisa seorang hafidz mutqin itu bisa dibuat durhaka sama orangtuanya?
Saya menarik nafas, setelah berhasil menghentikan keluhan mereka tentang kondisi rumahnya. Kemudian saya memberi nasihat tentang 4 orang pertama yang masuk neraka lebih awal sebelum hisab dimulai. Yakni seorang syahid, seorang dermawan, seorang ulama dan qori yg hafidz. Dan alasan kenapa mereka masuk neraka padahal itu profesi terbaik menurut Nabi sholallahu alaiyhi wa sallam?
Jawabannya adalah kondisi hati (jiwa) yg buruk yg kemudian mempengaruhi niat-niat mereka. Mereka melakukan amalan dzohir namun tdk peduli dengan kesucian bathin (niat) dlm amal sholihnya. Sehingga dalam hisab ia kalah dan masuk neraka.
Jika al Quran itu, dibacakan mampu menyucikan jiwa lain. Jika alquran itu dibacakan memiliki effect panas, membakar sihir dan syaitan penyihir dihadapan kita bukankah ia seharusnya membakar karat-karat hati dan seluruh keburukan didalam dada pemiliknya (penghafalnya yg telah menyimpan al Quran didadanya)?
Jika kita baik kepada orang yang jauh namun buruk kepada orang-orang dekat kita, artinya kebaikan kita kepada orang-orang jauh itu palsu?
Kenapa kita baik dan ramah kepada murid-murid yang tidak kita kenal, lalu buruk terhadap orang tua yang melahirkan kita. Yang menjadi sebab terlahirnya kita kemuka bumi ini?
Perintah baik kita kepada orang tua bukan karena dia baik, ahluttauhid, alhlussunnah atau bahkan bukan karena dia seorang muslim. Namun Allah perintahkan kita baik kepada mereka karena dia orang tua kita.
Kita bukan Isa Alaiyhi Sallam yang terlahir tanpa ayah, karena Allah ta'ala beri kekhususan dengan malaikat yg meniupkan ruh kepadanya. Kita bukan Adam alaiyhi salam dan istrinya yg diciptakan langsung sehingha tanpa ayah dan ibu. Kita adalah manusia biasa. Terlahir dari ibu.
Seluruh sel ditubuh kita ini adalah investasi dari satu sel sperma dan sel telur ibu, yg dengan rahmat Allah bertumbuh menjadi triliyunan sel tubuh kita yg sudah matang dan dewasa ini. Bahkan lisan yg kita gunakan untuk mencela mereka dgn faseh ini adalah lisan yg sama yang mereka dulu ajari untuk berbicara.
Rasa kecewa didada itu akan lenyap saat kedua mata mereka tertutup dan tidak akan terbuka lagi selamanya seiring dengan tertutupnya pintu syurga bernama "Waliid" pintu yg hanya bisa dibuka oleh anak-anak yang berbakti kepada orangtuanya.
Saudariku, percayalah bahwa membuka gerbang pintu surga itu bukan hal ringan. Ia memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang hebat dan hari ini Allah meminta dari kalian hanya sekedar pengorbanan rasa. Maukah kita berkorban rasa sekedar memberi udzur kepada mereka kedua orang tua kita?
Yang terpenting dari semua itu kekecewaan dan kemarahan terhadap orang tua atau siapapun makhluk di bumi ini merupakan kemarahan dan kekecewaan kepada Allah yang telah menjadikan mereka alat uji untuk menguji kita tanpa kita sadari kita telah kufur kepada Allah yang telah memberikan nikmat besar kepada kita yang tidak diberikan kepada semua orang yakni taufiq dan hidayah untuk mengenal al quran, mencintai, dan memilikinya (menghafal seluruh al quran)
Sesungguhnya kita tidak melihat saja segunung pahala yang Allah siapkan karena amal sholeh kita, seandainya engkau melihatnya pahala dari 5 juz awal saja al baqarah dan ali imran maka dengannya kita bisa membawa orang tua kita ke surga bahkan memberikan mereka mahkota kehormatan di atas panggung yang akan disaksikan oleh seluruh manusia.
Bahkan bukankah seorang hafidz quran itu akan membawa 10 orang untuk masuk surga bersamanya dan tentu mereka adalah 10 nama nama orang terdekat. Coba, siapa kira kira 10 orang yang akan kalian bawa masuk surga itu.
1. Guru ngaji saya
2. Donatur saya
3. Adek saya yang penurut
4. Kakak saya tepat curhat
5. Sahabat baik saya seperjuangan
6. Tetangga saya?
Apakah seperti itu balasan seorang ahlul quran. Yang padahal ia tidak akan pernah bisa menghafal quran dan bahkan sekedar hidup di dunia ini tanpa asbab kedua orang tuanya. Bukankah kita tidak bisa serta merta turun begitu saja atau jatuh dari langit dan bisa berjalan di muka bumi tanpa proses terlahir terlebih dahulu.
Yakin begitu, sakin seperti itu. Yakin akan membawa kemarahan itu sampai ke akhirat sampai tidak mau bertetangga atau bersama disana hanya gara-gara mereka tidak mengasuh kita dengan baik. Tidak menumbuhkan kita dengan baik.
"Tidak ustadz". Jawab mereka dengan isak dibalik cadarnya.
Yakin bisa masuk syurga tanpa ridho orang tua?
Dan adzan magrib pun menjelang. 2 jam berlalu luarbiasa. Kami pun shalat maghrib berjamaah di masjid yang berlokasi 500 meter dri pondok. Dan terapi akan dilanjutkan setelah isya, karena ba'da maghrib sampai isya jadwal terapi untuk tamu tumor otak yang sudah tuli total selama 4 tahun terakhir. Sedang menunggu di masjid.
Ba'da isya, kami kembali ke kantor di pondok dan melanjutkan konseling 30 menit kemudian dan terapi. Sebelum mulai sesi akhir, sya bertanya kepada hafidzah yg kangker dan ia member feedback sudah lega dadanya. Dan siap memaafkan orang tuanya.
Dan saya menyampaikan pesan, bahwa sebenarnya kalau seseorang berkata "Saya siap memaafkan orang tua saya" artinya ia masih angkuh, merasa dirinya benar dan orang tuanyalah yg salah sehingga layak dimaafkan. Yg benar adalah minta maaf!
Hafidzah disampingnya yg memiliki keluhan pendarahan, hipertensi dan atshma menyambut baik ketika ditanya kondisi psikisnya. Ia mengatakan alhamdulillah, tadi sempat mau telpn untuk minta maaf. MasyaAllah, usia dibawah 30 tahun memang sudah dewasa namun masih dlm masa labil. Artinya bisa lebih mudah dipengaruhi dan dinasihati.
Selanjutnya saya bertanya kepada pembina mereka dan berapa jam waktu yang mereka miliki, san beliau menjawab 1 jam. 2 diantara mereka sudah pulang ba'da isya karena ada jadwal keluar negeri dan mengikuti kegiatan di pondoknya di jakarta.
Materi selanjutnya adalah materi pamungkas untuk kanalisasi, yakni "khutbah iblis". Dan "memaafkan dgn sempurna". 2 materi yg biasa saya gunakan untuk re-setting sistem operasi tubuh manusia dari jantung sebagai pusat bio-electricity tubuh dan akal sebagai command centernya.
Kedua materi ini tidak disampaikan disini karena sangat panjang dan melibatkan ayat-ayat quran yang banyak. Pembaca bisa menyimak di youtube dan tiktok, atau platform media sosial saya dilain kesempatan. Klo ditulis khawatir tulisan terlalu panjang dan jemu membacanya.
Tentu, para hafidz ini lebih hafal dari saya tentang ayat-ayat itu. Bahkan dan ketika diurai makna, hikmah dan relasi antara ayat itu dengan psikis manusia dan misi iblis dan balatentaranya (syaitan) untuk infiltrasi merusak manusia mereka sangat terhubung. Dan sukses memahamkan mereka tentang relasi kekecewaan dengan kekufuran yg menjadi misi iblis.
Mereka pun telah siap untuk diterapi. Saya mulai merubah posisi mereka dan memulai terapi dengan al baqarah 1-19. Dilanjut ayat 102, 163-164, 255-257 dan 3 ayat terakhir yaitu 284-286 dan muhasabah serta doa bersama dlm ayat 286 diulang-ulang. Semua masih aman, tak ada reaksi apapun. Hanya ibu pembina yang sendawa-sendawa, membenarkan jin nasab yg terdiagnosa dari jantung dan syarafnya yg penyakit genetik tadi.
Selanjutnya dibacakan surah Ali Imron 18-19, al A'raaf 54, Al Kahfi 1-10, as Shofaat 1-10, al Jin 1-9 dan mulai ada respon. Si abang hfidz mulai muntah ringan, dan si kaka hafidzah yang tumor itu mulai ada gerakkan di kedua telapak tangannya: ada gerakan yg makin kuat mengepal.
Saya menggunakan sarung tangan tebal dan meletakkan tangan diatas kepalanya untuk memfokuskan terapi pada akalnya. Berharap menembus pengaruh syaitan didadanya. Setelah beberapa menit ia mulai menangis terisak, dan mengerang kesakitan. Saya yakin bukan suara aslinya. Sebagai catatan tdk semua terapi dgn sentuhan, dan sentuhan hanya boleh diarea kepala. Kecuali tepukan di area belakang untuk melepaskan ikatan dan membantu saat ada desakkan muntah.
Ibu pembina disamping, mulai menangis kencang. Ini adalah pertama kalinya sejak pertama ruqyah kpd beliau beberpaa tahun lalu. Beliau adalah orang yg berjasa di rehab hati, infaqnya ratusan juta dari awal pembangunan pondok ini. Hanya beberapa tahun ini tdk pernah kontak setelah Terapi Intensif terakhir dan peletakan batu pertama masjid. Hari ini syaitan yg bersembunyi baru muncul.
Ayat ruqyah pun terus dibacakan, meski agak lelah dan suara saya mulai berubah setelah mengisi seharian. Beberapa kali ruqyah hari itu dan serangkaian jadwal dipekan ini. Termasuk rekaman E-Course Akademi Ruqyah yg menguras tenaga. Namun setiap pengorbanan pasti tak sia-sia.
Saya bacakan surah al A'raaf 117-122, Yunus 81-82, Taha 69, Al Hasyr 21-24, Al Ikhlas, dan ditutup Al Falaq dan Annnas serta do'a bersama.
Suasana mulai goncang, dan tim dari divisi ruqyah mulai masuk dan membantu. Ikhwan satu-satunya diruangan itu mutah hebat namun tdk keluar makanan dari lambungnya. Namun kresek putihnya nampak memerah seperti ada darah.
Selesai ruqyah satu persatu ditanya, alhamdulillah semua positif. Yg atshma lega, ibu yg sakit jantung dan syaraf pendengaran lebih jelas pendengarannya dan ia mengatakan "Ruqyah kali ini lebih tajam dan panjang" sehingga beliau reaksi keras.
Si Abang Hafidz menyampaikan masih ada yg menyangkut dibawah jakun di tenggorokanya. Kemudian saya bacakan ulang al Hasyr ayat 21-24 sambil meletakan teluntuk agak menekannya. Setelah selesai ia masih merasakan sedikit.
Dan saya ulang kedua kalinya, dan rasa yg menyangkut itu bersih total. Ia kemudian menyampaikan kendala suaranya yg kadang hilang. Saya kemudian verifikasi bahwa saya pernah ruqyah syaikh kibar dan imam di kotanya (sebuah provinsi) di indonesia dan di kota Oulu Eropa utara. Dengan keluhan yg sama yakni syaitan ditenggorokan seorang hafidz yg mengganggu bacaan shalat dan dakwah di mimbar-mimbarnya.
Si kaka hafidzah yg tumor itu merasakan benjolannya panas terbakar dan tidak ada rasa sakit. Ini adalah kabar gembira karena baru ruqyah pertama. Ketika sebuah penyakit merespon al Quran, artinya penyakit itu akan sembuh dengan al Quran.
Setelah closing, malam itu ditutup dengan makan malam nasi liweut yg disiapkan teman-teman sebagai kejutan. Setelah itu kami bersiap untuk kembali ke jakarta. Alhamdulillah, jam 10 malam lewat kemacetan Bogor sudah terurai dan bisa sampai Cibubur sebelum tengah malam. Untuk melanjutkan perjalanan berikutnya.
Kisah-kisah dalam ruqyah diangkat sebagai hikmah dan ibroh, betapa Al Quran itu gagah ketika ia diletakkan pada posisinya sebagai al Furqon. Sebagai I'jaz, kemuliaan dan Mu'jizat agung yg pasti akan mengalahkan logika atau akal manusia bahkan seluruh mahluknya. Semoga bisa diambil hikmahnya, hingga kita makin mencintai al Quran dan As Sunnah. Aamiin yaa Rabbana.
Kisah ini adalah fakta besar bahwa seorang ahli Quran sekalipun bisa disusupi syaitan. Bahwa syaitan dari masalalu seseorang bisa bertahan, meski ia telah mengkhatamkan bahkan menghafal al Quran. Bahwa penyakit psikis atau nafs seseorang memegang peranan penting kepada qolbu seseorang dan pintu masuk syaitan yg kemudian diam-diam menguasainya.
Bagaimana kita yang tak memiliki hafalan, atau tak ada ikatan dan interaksi samasekali dengan al Quran?
Nuruddin al Indunissy
24 Rajab 1445 H, 5 Feb 2024M
Komentar
Posting Komentar